Being an Introvert
Manusia memiliki kepribadian, karakter, pola pikir, dan sudut pandang yang berbeda-beda. Gue tau di dunia ini tidak hanya ada satu dua orang, tapi miliyaran manusia yang hidup.
Beda halnya bagi introvert dia hanya mampu melihat beberapa manusia yang berada di muka bumi untuk diajak bersosialisasi.
Menjadi orang introvert tidak semenyenangkan dan juga tidak seburuk dari kata sosial. Namun, lebih nyaman berada di dalam bubble yang kita buat dan hanya mengizinkan beberapa orang yang sama untuk memasuki bubble itu.
Entah itu bisa dikatakan cenderung individualis atau antisosial.
Tapi, sebenarnya introvert hanya memilah-milah siapa yang benar-benar cocok untuk diajak bersosial di dalam bubble.
Dalam berkomunikasi entah itu orang baru atau lama gue terlihat friendly dengan suasana. Gue terlihat heboh, penuh jokes, dan hal-hal lain yang mencairkan suasana. Namun, jika ditelaah gue adalah introvert yang memiliki teman yang hanya bisa dihitung pakai jari.
Tidak semua dalam berkomunikasi gue menjadi orang yang penuh virus ceria. Terkadang gue menjadi orang yang terlihat sangat antisosial. Entah itu karena faktor mood atau memang orang yang diajak bersosialisasi itu tidak sinkron dengan pikiran gue.
Gue sadar memilah dari miliyaran manusia untuk diajak bertukar pikiran bukanlah jalan yang baik. Sebagaimana gue sadar bahwa tidak ada orang yang persis sama jalan pikirannya dengan gue.
Bubble ini setidaknya masih kokoh. Namun, jika terus-menerus membentengi diri, gue tidak akan mampu melihat dunia secara luas.
Perlahan gue akan memecahkan bubble ini dan mengizinkan siapa saja bertamu. Dengan itu gue setidaknya bisa bersosialisasi dengan manusia dengan watak yang berbeda-beda. Jadi mampu menempatkan posisi gue seperti apa jika berhadapan dengan orang ini-orang itu walau gue berkepribadian introvert.
Beda halnya bagi introvert dia hanya mampu melihat beberapa manusia yang berada di muka bumi untuk diajak bersosialisasi.
Menjadi orang introvert tidak semenyenangkan dan juga tidak seburuk dari kata sosial. Namun, lebih nyaman berada di dalam bubble yang kita buat dan hanya mengizinkan beberapa orang yang sama untuk memasuki bubble itu.
Entah itu bisa dikatakan cenderung individualis atau antisosial.
Tapi, sebenarnya introvert hanya memilah-milah siapa yang benar-benar cocok untuk diajak bersosial di dalam bubble.
Dalam berkomunikasi entah itu orang baru atau lama gue terlihat friendly dengan suasana. Gue terlihat heboh, penuh jokes, dan hal-hal lain yang mencairkan suasana. Namun, jika ditelaah gue adalah introvert yang memiliki teman yang hanya bisa dihitung pakai jari.
Tidak semua dalam berkomunikasi gue menjadi orang yang penuh virus ceria. Terkadang gue menjadi orang yang terlihat sangat antisosial. Entah itu karena faktor mood atau memang orang yang diajak bersosialisasi itu tidak sinkron dengan pikiran gue.
Gue sadar memilah dari miliyaran manusia untuk diajak bertukar pikiran bukanlah jalan yang baik. Sebagaimana gue sadar bahwa tidak ada orang yang persis sama jalan pikirannya dengan gue.
Bubble ini setidaknya masih kokoh. Namun, jika terus-menerus membentengi diri, gue tidak akan mampu melihat dunia secara luas.
Perlahan gue akan memecahkan bubble ini dan mengizinkan siapa saja bertamu. Dengan itu gue setidaknya bisa bersosialisasi dengan manusia dengan watak yang berbeda-beda. Jadi mampu menempatkan posisi gue seperti apa jika berhadapan dengan orang ini-orang itu walau gue berkepribadian introvert.
Komentar
Posting Komentar