Tulisan Panjang Tentang Angka
Gimana yah, sebenarnya gue bingung menjelaskan ini tapi karena menurut gue ini layak untuk dibicarakan yaudah. Gue tidak bermaksud menyinggung siapapun tapi kalau kalian merasa, cobalah untuk take the positive part untuk kalian realisasikan ke diri.
Ini tentang bagaimana sebuah angka yang begitu prioritas.
Pernah ga sih kalian merasakan yang namanya struggle atau bersusah payah untuk mencapai suatu hal namun hasilnya jauh dari yang kita harapkan? Ok, pernah. Manusia mana yang tidak pernah merasakannya right?
Pernah dengar;
Menurut gue, peristiwa di atas itu marak terjadi. Gue pernah berada di posisi itu. Menjadi yang tidak belajar tapi nilainya bagus dan pernah menjadi orang yang belajar tapi nilainya biasa-biasa saja.
Menurut gue, orang yang belajar dengan tidak belajar itu sama saja. Mereka berhak mendapat nilai sesuai keinginan. Kita tidak tahu orang yang tidak belajar (padahal besok ujian) bisa jadi mereka sudah mempersiapkannya di jauh hari, atau memang ingatannya kuat, atau juga ilmunya yang luas. Kita tidak tahu. Dan untuk orang yang berada di posisi belajar namun nilainya biasa-biasa saja, mungkin memang dia butuh belajar karena dia tahu bahwa ilmunya tidak luas. Untuk mendapatkan nilai makanya dia butuh belajar.
Dulu,
Kadang gue cemburu sama orang yang tidak belajar namun nilainya bagus.
"Eh kok bisa ya nilainya bagus padahal ga belajar. Nyontek kali."
Itu yang ada dipikiran gue waktu dulu. Tapi sekarang gue mencoba untuk tidak melihat seseorang dari sisi luarnya. Seperti yang dosen gue katakan :
Seperti yang gue bilang barusan, mungkin dia sudah mempersiapkannya di jauh hari, atau memang dia adalah orang yang berpengetahuan luas.
Allahu a'lam.
Begitu mudahnya pikiran negatif bertebaran tanpa dicari tahu benang merahnya. Itulah manusia.
Kasus yang kedua ;
Kasus ini jalan keluarnya; usaha dengan diri sendiri itu lebih memberi kita kepuasan lahir batin walau kadang tidak sesuai. Cobalah untuk mencintai diri sendiri dan challenge yourself.
Kasus yang ketiga;
Menurut gue yang ini parah banget.
Kejar nilai sih sah-sah saja ya, tapi kalau begitu caranya .... *menghela napas*
Dunia itu panggung sandiwara. Lelah gue. Ada orang yang berusaha mati-matian dengan usahanya sendiri, dengan energinya sendiri, untuk bagaimana bisa mendapatkan hasil yang maksimum kalah dengan orang yang pandai take attention orang-orang.
Di sini orang yang introvert kalah banyak dan tertindas. Tidak ada yang bisa dilakuin kecuali memendam dan pasrah.
Kadang tuh ya manusia itu liciknya luar biasa.
Gue licik, tapi gue tidak pernah berniat mengambil hak orang lain. Gue pikir-pikir dulu sebelum gue melakukan. Biasanya gue liciknya di meja catur, atau di permainan dunia yang diharuskan memang untuk licik. Tapi licik yang sehat ya.
Kalimat yang bisa menghibur pada saat gue down;
Walau kadang berkhianat, mungkin itu sebuah jalan untuk mencapai kesuksesan di masa depan.
Ini tentang bagaimana sebuah angka yang begitu prioritas.
Pernah ga sih kalian merasakan yang namanya struggle atau bersusah payah untuk mencapai suatu hal namun hasilnya jauh dari yang kita harapkan? Ok, pernah. Manusia mana yang tidak pernah merasakannya right?
Pernah dengar;
"Temen lo ga belajar padahal besok ada ujian/ulangan, tapi pas pembagian nilainya bagus ketimbang kita padahal kita belajar."
Menurut gue, peristiwa di atas itu marak terjadi. Gue pernah berada di posisi itu. Menjadi yang tidak belajar tapi nilainya bagus dan pernah menjadi orang yang belajar tapi nilainya biasa-biasa saja.
Menurut gue, orang yang belajar dengan tidak belajar itu sama saja. Mereka berhak mendapat nilai sesuai keinginan. Kita tidak tahu orang yang tidak belajar (padahal besok ujian) bisa jadi mereka sudah mempersiapkannya di jauh hari, atau memang ingatannya kuat, atau juga ilmunya yang luas. Kita tidak tahu. Dan untuk orang yang berada di posisi belajar namun nilainya biasa-biasa saja, mungkin memang dia butuh belajar karena dia tahu bahwa ilmunya tidak luas. Untuk mendapatkan nilai makanya dia butuh belajar.
Dulu,
Kadang gue cemburu sama orang yang tidak belajar namun nilainya bagus.
"Eh kok bisa ya nilainya bagus padahal ga belajar. Nyontek kali."
Itu yang ada dipikiran gue waktu dulu. Tapi sekarang gue mencoba untuk tidak melihat seseorang dari sisi luarnya. Seperti yang dosen gue katakan :
Manusia hanya mampu melihat fenomenanya tanpa mampu melihat deep construction.
Seperti yang gue bilang barusan, mungkin dia sudah mempersiapkannya di jauh hari, atau memang dia adalah orang yang berpengetahuan luas.
Allahu a'lam.
Begitu mudahnya pikiran negatif bertebaran tanpa dicari tahu benang merahnya. Itulah manusia.
Kasus yang kedua ;
"Waktu ujian berlangsung temen lo minta jawaban satu nomor, dua nomor bahkan lebih. Tapi pas pembagian, nilainya lebih tinggi daripada kita yang ngasih jawaban."
Kasus ini jalan keluarnya; usaha dengan diri sendiri itu lebih memberi kita kepuasan lahir batin walau kadang tidak sesuai. Cobalah untuk mencintai diri sendiri dan challenge yourself.
Kasus yang ketiga;
Menurut gue yang ini parah banget.
"Dia orangnya biasa-biasa saja, ga pintar-pintar amat, ujian dihadapkannya dengan santai, tapi nilainya cakep-cakep. Apparently, dia jago take attention dari pendidik."
Kejar nilai sih sah-sah saja ya, tapi kalau begitu caranya .... *menghela napas*
Dunia itu panggung sandiwara. Lelah gue. Ada orang yang berusaha mati-matian dengan usahanya sendiri, dengan energinya sendiri, untuk bagaimana bisa mendapatkan hasil yang maksimum kalah dengan orang yang pandai take attention orang-orang.
Di sini orang yang introvert kalah banyak dan tertindas. Tidak ada yang bisa dilakuin kecuali memendam dan pasrah.
Kadang tuh ya manusia itu liciknya luar biasa.
Gue licik, tapi gue tidak pernah berniat mengambil hak orang lain. Gue pikir-pikir dulu sebelum gue melakukan. Biasanya gue liciknya di meja catur, atau di permainan dunia yang diharuskan memang untuk licik. Tapi licik yang sehat ya.
Seperti di tulisan gue sebelumnya 'The Human Being', banyak permainan dunia yang semakin membuat manusia kehilangan hatinya. Hak orang lain dia sedot semua.
Tidak sedikit dari orang yang melakukan kecurangan saat ujian. Banyak cara yang mereka lakukan agar mendapat angka yang maksimal. Karena yang dikejarnya adalah dunia dan DUNIA APABILA DIKEJAR TIDAK AKAN ADA HABISNYA.
Gue percaya orang-orang seperti itu tidak akan berjaya lama di puncak emasnya.
Ingat saja kalimat : مَنْ جَدّ وَ جَدًّ
Oke. Sudah dulu untuk marah-marahnya. Sebenarnya gue ga marah sih cuma mengeluarkan apa yang bersarang di kepala gue selama ini.
****
Kalimat yang bisa menghibur pada saat gue down;
Usaha keras tidak akan mengkhianati.
Walau kadang berkhianat, mungkin itu sebuah jalan untuk mencapai kesuksesan di masa depan.
Kesuksesan tidak akan pernah dirasakan jika kita tidak pernah gagal.
Nah, kek gni nih yg sring w dpet. Orng sprti it kira2 prnh brpikir ga sih, tntng tujuannya sekolah itu untuk apa? Esensi belajar it sndiri bgmna? Kalo cman pngen dpet nilai tinggi dngn cara sok akrab dpan Guru/Dosen tuh lebih baik gak usah sekolah skalian, buang2 waktu dan tnaga doang. Heran sih, memng sistm penilaian it cmn pndang keakraban? Siapa yg terdekat maka dia yg dpat lebih. WAH kalo gtu ga usah belajar dah, lbih baik duduk manis trus pasang muka manis and gotcha! u'll have better.
BalasHapusBagi pelajar yg merasa dirinya kek gtu. Saranin buang jauh2 tntng diri lu yg cman mau nilai. Cobalah Berusaha yg lbih sportif, krn yg prnh gw dengr Nilai n ijazah it cuman formalitas doang, Which is.. It hnya sbgai label kalo lu prnh mnempuh pendidikn. Percuma kan, dpet nilai tinggi dskloah tpi kualitasnya rendah. Di ibaratkan seprti brang pabrik yg dmna harganya mahal tpi kualitasnya masih kurang, yakin dah ga bakalah ad orang yang mau membelinya.
Mantap sob..
Hapus